HAFSHAH BINTI ‘UMAR R.A. (Penyimpan Mus-haf) Bagian 7

Setelah Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan r.a. wafat di tangan kaum pem­berontak pada bulan Zulhijjah tahun ke-35 Hijriyah, ‘Ali bin Abi Thalib r.a. dibai’at sebagai Khalifah dan AmirulMuminin. Dalam masa kekhali-fahannya terjadi malapetaka besar. Ummul Muminin ‘A’isyah r.a. bersa­ma dua orang tokoh sahabat, Thalhah bin ‘Ubaidillah dan Zubair bin Al-‘Awwam, menggerakkan pemberontakan bersenjata melawan Amirul Muminin…

HAFSHAH BINTI ‘UMAR R.A. (Penyimpan Mus-haf) Bagian 6

Amanat Termahal di Dunia Semenjak Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  bertindak tegas dan sejak turunnya ayat-ayat 3-5 At-Tahrim, para istri Nabi tidak lagi berulah menyusahkan beliau. Demikian pula Hafshah binti ‘Umar r.a. yang nyaris terlunta-lunta akibat perbuatannya. Sekarang ia telah bertobat dan hidup tenang sebagai Ummul-Mu’minin. Tidak ditemukan lagi adanya berita…

HAFSHAH BINTI ‘UMAR R.A. (Penyimpan Mus-haf) Bagian 5

Yang menarik perhatian kita ialah persoalan yang berkaitan dengan Hafshah dan ayahnya, ‘Umar bin Al-Khaththab r.a. Tanpa menyadari akibat yang akan timbul Hafshah membocorkan rahasia yang diwanti-wanti oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  supaya benar-benar disimpan rapat, dan ternyata pembocoran itu menyalakan api yang panasnya cukup menye­ngat. Sementara berita riwayat mengatakan,…

HAFSHAH BINTI ‘UMAR R.A. (Penyimpan Mus-haf) Bagian 4

Menghadapi dua orang istri tersebut Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam berusaha sedapat mungkin menenteramkan hati dan perasaan mereka. Beliau me­mahami sepenuhnya bahwa mereka itu adalah wanita. Wajarlah kalau masing-masing mendambakan tumpahan kasih sayang penuh dari suaminya. Atas dasar pengertian itu selalu berupaya agar masing-ma­sing dari mereka tidak terlalu berkeinginan mendapat perlakuan…

HAFSHAH BINTI ‘UMAR R.A. (Penyimpan Mus-haf) Bagian 3

Membocorkan Rahasia Setelah dinikah oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam Hafshah binti ‘Umar r.a. pindah ke rumah beliau dan menempati ruang tersendiri di antara beberapa ruangan yang belum berpenghuni. Dua orang istri beliau yang lain, yaitu Saudah binti Zam’ah dan ‘A’isyah binti Abu Bakar memperlihat­kan sikap yang berlainan. Saudah r.a. menyadari…

HAFSHAH BINTI ‘UMAR R.A. (Penyimpan Mus-haf) Bagian 2

Kedatangan ‘Umar r.a. disambut baik oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam, bahkan wajah beliau tampak berseri-seri dan riang. Lain halnya ‘Umar yang datang membawa kejengkelan tersembunyi di dalam dada terhadap Abu Bakar dan ‘Utsman—radhiyallahu ‘anhuma. ‘Umar mohon maaf lebih dulu kepada beliau sebelum menceritakan kepahitan yang baru saja dialami. Dengan lemah…

HAFSHAH BINTI ‘UMAR R.A. (Penyimpan Mus-haf) Bagian 1

Hai anakku, jangan engkau iri hati kepada perempuan yang bangga karena kecantikannya dan karena kecintaan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam kepadanya! Demi Allah, engkau tentu tahu bahwa Rasulullah tidak mencintaimu, dan kalau bukan karena aku engkau tentu sudah dicerai.” (Dari ‘Umar Ibnul-Khaththab dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) Menantu Mulia Dari…

‘A’ISYAH BINTI ABU BAKAR R.A. Bagian 21

‘A’isyah r.a. adalah salah seorang sumber utama hadits-hadits Nabi. Hadits-hadits beliau yang diriwayatkan olehnya tidak kurang dari 2.210 (dua ribu dua ratus sepuluh) buah. Pengetahuannya tentang agama Islam cukup banyak. Imam Azzuhriy menegaskan, “Pengetahuan ‘A’isyah r.a. mengenai agama jika dibanding dengan semua pengetahuan yang ada pada istri Nabi lainnya, atau jika dibanding dengan pengeta­huan agama…

‘A’ISYAH BINTI ABU BAKAR R.A. Bagian 20

‘A’isyah r.a. merupakan istri Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam, sesudah Khadijah r.a., yang paling banyak beroleh curahan kasih sayang beliau. Putri Abu Bakar r.a. itu merupakan istri Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam, sesudah Khadijah r.a., yang paling mendalam cinta kasihnya kepada beliau. Berbagai sumber riwayat memberitakan bahwa…

‘A’ISYAH BINTI ABU BAKAR R.A. Bagian 19

Suasana berubah menjadi hening, semua terpaku diam, hanya tarik­an napas Ummu Ruman yang terdengar berulang-ulang, dan ia pun turut meneteskan air mata. Ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam beranjak hendak pulang meninggalkan tempat, tiba-tiba beliau terlelap kedatangan wah­yu, seolah-olah ruhani dan jasmani beliau berpisah beberapa detik. Be­liau dibaringkan, diselimuti, dan sebuah…