ZAINAB BINTI JAHSY R.A. (Wali Nikahnya Paling Mulia) Bagian 8

Pada bab yang lalu telah diketengahkan betapa besar kecemburuan ‘A’isyah r.a. terhadap Zainab r.a., yaitu kisah tentang kesepakatan bersama antara ‘A’isyah, Hafshah, dan Saudah—radhiyallahu dnhunna—keti­ka mereka melihat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  agak lama berada di tempat kediam­an Zainab r.a. Mereka bersepakat menyindir-nyindir beliau dengan mengajukan pertanyaan yang sama, “Aku mencium…

ZAINAB BINTI JAHSY R.A. (Wali Nikahnya Paling Mulia) Bagian 7

Pernikahan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  dengan Zainab binti Jahsy r.a. terjadi dalam tahun ke-5 Hijriyah. Ketika itu Zainab berusia 35 tahun. Demi­kian menurut Al-Waqidiy di dalam Al-Ishabah: VIII/93 dan ‘Uyunul-Atsar: 11/304. Nama asli Zainab ialah Barrah. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  sendiri yang memberinya nama baru…

ZAINAB BINTI JAHSY R.A. (Wali Nikahnya Paling Mulia) Bagian 6

Walimah dan Hijab Menurut Al-Waqidiy di dalam Thabagat Ibnu Sa’ad dan Al-Ishabah, pada saat-saat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  sedang bercakap-cakap dengan ‘A’isyah r.a., tiba-tiba beliau lelap dalam ghasy-yah[1] melihat Malaikat Jibril a.s. datang menyampaikan wahyu Ilahi kepada beliau. Beberapa saat kemudian beliau terjaga seraya tersenyum dan bertanya, “Siapakah yang mau…

ZAINAB BINTI JAHSY R.A. (Wali Nikahnya Paling Mulia) Bagian 5

Sekalipun Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  telah berbulat tekad hendak mendob­rak tradisi jahiliyah mengenai tabanni itu dan memahami sepenuhnya apa yang telah diperintahkan Allah kepada dirinya, beliau merasa masih belum sanggup melaksanakan perintah tersebut, yakni keharusan be­liau nikah dengan Zainab. Beliau masih memikirkan, betapa besar reaksi masyarakat jika mengetahui beliau nikah…

ZAINAB BINTI JAHSY R.A. (Wali Nikahnya Paling Mulia) Bagian 4

Zaid mematuhi nasihat beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  Ia mencoba berusaha menahan derita batin yang tidak diketahui kapan akan berakhir. Sejak Zainab belum menjadi istrinya, Zaid sudah mendengar bahwa Zainab pasti tidak akan dapat menerimanya sebagai suami. Akan tetapi atas kemau-an Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  ia—walaupun…

ZAINAB BINTI JAHSY R.A. (Wali Nikahnya Paling Mulia) Bagian 3

Pernikahan Atas Perintah Ilahi Kendati Zainab telah menjadi istri Zaid, kehidupan suami istri itu sama sekali tidak serasi. Zainab sukar melupakan kemuliaan dirinya sebagai wanita berdarah bangsawan. Ia tetap merasa tidak sudi mempunyai seorang “bekas budak.” Satu detik pun ia tidak pernah merasa ke­dudukannya lebih rendah dari suaminya, seorang lelaki yang hadir di tengah keluarga…

ZAINAB BINTI JAHSY R.A. (Wali Nikahnya Paling Mulia) Bagian 2

Ayah Zaid, Haritsah bin Syarahil, ketika mengetahui anaknya hilang dilarikan penyamun merasa sangat cemas dan khawatir kalau-kalau sudah mati dibunuh. Akan tetapi ia belum putus harapan. Ia keluar meninggalkan permukimannya, pergi ke mana-mana untuk mencari Zaid. Akhirnya ia mendengar bahwa Zaid berada di Makkah. Bersama saudaranya yang bernama Ka’ab ia berangkat ke Makkah. Di kota…

ZAINAB BINTI JAHSY R.A. (Wali Nikahnya Paling Mulia) Bagian 1

“Ya Rasulullah, aku tidak seperti istri-istri Anda yang lain. Masing-masing mereka dinikahkan oleh ayahnya, oleh saudaranya, atau oleh keluarganya …. Aku lain … Allah yang menikahkan Anda denganku dari langit!” (Dari Zainab binti Jahsy Ummul-Mu’minindalam Al-Ishabah) Wanita Bangsawan dan Pria Asuhan (Syarifah wa Maula) Sewaktu Ummu Salamah r.a. tiba di tengah keluarga Nabi Muhammad Shalallahu…

UMMU SALAMAH R.A. (Binti Zadir-Rakb) Bagian 7

Allah di Belakang Umat Ini! Sepeninggal Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  Ummu Salamah berusaha menjauhkan diri dari hiruk-pikuk kehidupan masyarakat. Demikian pertikaian antara pihak Imam Ali bin Abi Thalib dan pihak trio ‘A’isyah, Thalhah, dan Zubair; Ummu Salamah tegas mendukung dan membenarkan Amirul-Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Sebenarnya ia ingin…

UMMU SALAMAH R.A. (Binti Zadir-Rakb) Bagian 6

Pada tahun ke-6 Hijriyah, Ummu Salamah r.a. menyertai Rasulul­lah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam  dalam perjalanan ‘umrah ke Makkah, yakni ‘umrah yang tidak terlaksana karena beliau dan para sahabatnya dilarang memasuki kota Makkah oleh kaum musyrikin Quraisy. Peristiwa itulah yang mengaki­batkan adanya Perjanjian Perdamaian “Hudaibiyyah” (Shulhul-Hu-daibiyyah) antara pihak Muslimin dan pihak musyrikin…